Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Sudah menggusur, eh tempat justru dibuat jualan serupa

Rezeki memang sudah ada yang mengatur, tapi terkadang gangguan dari orang lain sering membuat kita resah. Terlebih orang tersebut adalah si-empunya tempat. 

Bagi para pedagang kuliner kaki lima, menyewa emperan ruko ataupun emperan rumah warga seringkali lebih dipilih. Karena bagaimanapun biaya yang dikeluarkan cenderung lebih murah dibandingkan menyewa tenant di minimarket. Dah mahal, ribet!. 

Selain itu tenant yang tersedia di minimarket juga seringkali tidak mencukupi untuk semua pedagang. Satu tempat biasanya hanya terisi dua sampai tiga gerobak. Maka wajar andaikata kedua tempat tersebut menjadi alternatif. 

Tapi sayangnya justru saya sering mendapatkan cerita tentang pengalaman buruk, dari orang lain biasanya saya dengar. Ketika sedang merintis bisnis kuliner dan sedang naik-naiknya, tak jarang lapak yang mereka tempati digusur. Si-empunya tempatlah sang pelaku, dengan beribu alasan sipenyewa dipaksa harus mengalah pindah ke tempat lain. 

Namun yang lebih menjengkelkan, tiba-tiba tempat bekas mereka berjualan justru didirikan usaha sejenis oleh si-empunya tempat. Rasa kesal dan penghujatan pastilah dipendam dalam hati. Itu tidak bisa dipungkiri. 

Di momen seperti ini, kita akan merasa hidup teramat susah. Sebagai orang kecil selalu  saja ada kendala untuk sekedar mencari sesuap nasi, dipontang-pantingkan kesana kemari. 

Sebenarnya saya sendiri tidak habis pikir, kok tega-teganya si-empunya tempat bisa berbuat hal demikian. Padahal keakraban biasanya sudah terjalin lama, rasa perkewuh seperti tidak dimiliki. Karena tergiur dengan pencapaian yang didapat oleh orang lain cara instan rela dijalankan, Silaturahmi dikalahkan oleh uang. 

Mungkin dari sebuah sakit hati inilah, Tuhan mengabulkan doa hambanya yang sedang teraniaya. Seringkali jika hendak berdagang mengusik orang lain, bisa dipastikan usaha yang akan dibangun cenderung tidak akan bertahan lama. Alih-alih mendapatkan untung secara cepat, gulung tikar justru yang diterima. Sukur!. 

Kalau dalam peribahasa bahasa jawa "lemah teles, kersane Gusti Allah sing mbales."

Jika mengambil sudut pandang secara logis, hal ini bisa terjadi karena beberapa alasan. 

Pertama, pembeli sudah terlanjur cocok dengan masakan si penjual sebelumnya. Walaupun berpindah tempat, mereka para pembeli akan turut serta mengikuti kemanapun dia berjualan. 

Karena seperti yang kita tahu, walaupun sama produk jualannya tapi tiap orang mempunyai cita rasa tersendiri dalam meracik makanan. 

Kedua, melihat tempat langganannya digusur rasa empati tumbuh. Imbasnya, tingkah laku sipunya lapak sebelumnya akan dikecam sebagai perbuatan yang kurang etis. Dan hal ini seperti bola salju, di masyarakat akan mendapatkan sanksi sosial berupa cap buruk.

Ketiga, semua rezeki Tuhan yang mengatur. Dalam kasus ini sipunya tempat berperan sebagai perantara rezeki yang diturunkan kepada si penyewa lapak. Tapi ketika dia menggusur, maka sama saja dia menyulitkan rezeki orang lain. Dan perlu diresapi, Tuhan maha adil. Ibaratnya begini, bagaimana dia bisa mendapatkan rezeki jika dia menghalangi orang lain?. Begitu. 



Posting Komentar untuk "Sudah menggusur, eh tempat justru dibuat jualan serupa"