Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Di-PHK saat pandemi, kini sukses menjadi eksportir umbi madu

Tangkapan layar ig : dayangumbi

Masih berpikiran profesi petani tidak menjanjikan?. 

Para petani bisa dibilang sangat berjasa bagi semua orang, karena dari yang mereka tanam kebutuhan manusia dapat terpenuhi.  

Namun justru seringkali profesi petani enggan dipilih sebagai jalan hidup, terlebih oleh para kawula muda. 

Jangankan bertani, sekarang lahan produktif lebih diminati untuk ditanami batu bata. Bisnis di bidang properti bisa dibilang lebih menjanjikan jika dibandingkan dengan sekedar bercocok tanam. 

Lihat saja di media sosial maupun mmt pinggir jalan, dengan mudah akan banyak kalian jumpai agen properti yang menawarkan cluster perumahan.  

Sawah bisa dikatakan mulai beralih fungsi.  

Selain itu, stigma petani mempunyai kehidupan susah juga sudah mengakar kuat. Bahkan membuat para petani sendiri enggan jika sang buah hati mengikuti jejak mereka. Mendapatkan kepastian hidup dan penghasilan tetap jauh lebih diinginkan. 

Jadi sangat dimaklumi andai kata pemerintah banyak melakukan import berbagai kebutuhan pokok. Karena semakin berkurangnya lahan dan minat bertani maka kebutuhan pangan Nasional semakin tidak terpenuhi. Simpel. 

Tangkapan layar yt : CapCapung

Nah stigma seperti inilah yang ingin dipatahkan oleh M. Khairul, dia merupakan seorang petani umbi madu asal Kecamatan Bandongan, Kabupaten Magelang. 

Saat pandemi hadir di awal tahun 2020, tempatnya bekerja mengalami kesulitan operasional, imbasnya di awal bulan maret PHK dialami. Stres jelas dirasakan, namun dia menolak untuk menyerah walaupun terpaksa harus pulang ke kampung halaman. 

Namun siapa sangka, dari sinilah kecintaannya terhadap dunia pertanian mulai tumbuh. Internet berperan penting baginya untuk membuka wawasan, melalui media sosial dan youtube dia terinspirasi untuk bertani umbi madu. 

Ketika hendak memulai, Khairul berkonsultasi terlebih dulu kepada sang teman yang kebetulan seorang ekportir. 

Untuk memantabkan hati, dia menanyakan info terkait komoditi apa saja yang mempunyai potensi jual di luar negri. Dan sang teman juga menyarankan untuknya menanam umbi madu. 

Di negara seperti Jepang, Singapura dan Korea Selatan umbi madu sering dikonsumsi sehingga permintaan pasar teramat besar. 

Kenapa bisa umbi madu begitu digemari diluar negeri?. 

Alasannya tentu karena umbi madu sendiri merupakan pengganti beras. Karbohidrat yang terkandung didalamnya berperan penting sebagai sumber energi. Selain itu  dari cita rasa manis dan lezat yang dihasilkan membuat bertani umbi madu mempunyai prospek menjanjikan jangka panjang.

Maka tanpa menunggu lebih lama dia mulai bertani seketika itu juga, kepada para petani sekitar dia belajar menggarap lahan. 

Namun dalam penerapannya dia membangun sebuah sistem baru yang berbeda dari petani konvensional pada umumnya. Dimana untuk menaikkan harga jual Khairul lebih memilih untuk mengekspor umbi madu hasil panennya ke Singapura dan Korea Selatan. Ditambah dengan menerapkan SOP dalam bertani, hasil yang didapatkan lebih maksimal. 

Dalam menanam umbi madu, Khairul menggunakan pupuk alami berupa jerami sisa hasil panen padi. Tanpa bantuan pupuk kimia tanah yang dikerjakannya menjadi lebih subur. 

Dilansir dari kanal youtube Capcapung, pada tiap masa panen dalam tiga setengah bulan sekali, pendapatan yang diperoleh Khairul sebanyak seratus juta rupiah lebih. Itupun hanya dari lahan seluas satu hektar. 

Menggiurkan bukan?. 

Kini bersama rekan-rekan, Khairul membentuk Indo Mitra Farm yang bertujuan untuk mensejahterakan masyarakat. 

Petani yang mempunyai lahan sangat terbantu dengan hadirnya mereka. Jika bermitra, dalam mengolah sawah para petani tidak perlu lagi bersusah payah.  Melalui kerjasa sama dengan sistem bagi hasil, lahan yang dimiliki petani Khairul kerjakan untuk ditanami umbi madu.

Jika dulu petani hanya bisa menanti hasil panen untuk mendapatkan uang, kini mereka bisa memperoleh penghasilan dengan bekerja di tempat lain. Jika musim panen tiba, keuntungan bersih dapat mereka rasakan. Dan pada akhirnya taraf hidup petani meningkat. 

Melalui generasi muda, pertanian di Indonesia bisa bergerak mengikuti perkembangan zaman. Image petani tidak lagi susah.

Kepada siapa lagi coba kita makan sesuap nasi kalau bukan dari jerih payah petani?. 















Posting Komentar untuk "Di-PHK saat pandemi, kini sukses menjadi eksportir umbi madu"