Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Balada penjual martabak dan Agus Mulyadi

Melihat kesuksesan hidup orang lain rasa minder terkadang muncul, terlebih menginjak usia 30an. Kalau berkaca pada diri sendiri, gambaran kegagalan seringkali terpantul. Dan benar adanya, penyesalan selalu datang terlambat. 

Waktu muda idealisme bisa dikatakan menjadi bumerang, jika berhasil menggapai cita-cita kenyamanan hidup pastilah dimiliki. Tapi jika sebaliknya? mengakhiri hidup bahkan ingin dilakukan. Ngenes

Beberapa kali saya sering mendapatkan teguran ketika mengambil keputusan, terutama oleh Ibu dirumah. Sebagai anak muda tentu pembuktian ingin ditunjukkan dan dari sifat keras kepala seperti inilah awal permasalahan hidup dimulai. 

Baru setahun lebih sedikit bekerja sambilan di kedai martabak di kota Solo, saya dengan jumawa ingin memiliki bisnis kuliner sendiri. Dan gara-gara sering membaca artikel tentang kisah sukses pebisnis muda di internet semangat saya menjadi terpacu. 

Bayangkan, menginjak semester 14 dengan bodohnya saya nekat memutuskan untuk berhenti kuliah. Tentu saja ibu marah,  beliau tidak terima. Tapi dengan berbagai penjelasan pada akhirnya ibu luluh, walaupun terpaksa restu diberikan. Untuk mempercepat rencana, meminjam uang di bank saya lakukan.

Tujuannya jelas, ingin masuk nominasi pebisnis muda sukses di Indonesia. Muluk!

Singkat cerita, pinjaman KUR di bank pada akhirnya cair. Dan tanpa menunggu waktu gerobak langsung saya pesan. Kepada salah seorang teman saya percayakan pembuatan, 3 minggu gerobak dijanjikan selesai. Tapi seiring waktu berjalan gerobak tidak kunjung jadi, satu hingga lima bulan berlalu saya harap-harap cemas. Dirumah, ibu selalu menanyakan. 

Saya panik, karena bagaimanapun setiap bulan saya harus mencicil pinjaman. Ditambah menanggung beban biaya hidup  penderitaan saya terasa lengkap pada waktu itu. Bodohnya lagi, ketika mengajukan pinjaman,  pengunduran diri di kedai martabak telah saya lakukan. 

Masa mau jadi pegawai terus? lapangan pekerjaan tentu lebih ingin saya ciptakan. Duh naifnya.

Semakin hari uang tabungan hasil pinjaman semakin berkurang dan ketika meminta kepastian pengerjaan gerobak, kata 'sebentar lagi selesai' selalu tersaji, saya kesal. Ternyata merupakan sebuah kesalahan berbisnis menggunakan akad pertemanan. Kalau tahu akan kejadian seperti ini mungkin saya akan memegang prinsip "konco yo konco, bisnis yo bisnis."

Namun sebagai calon pebisnis sukses, saya tidak boleh putus asa. Bagaimanapun caranya sisa tabungan harus bisa saya putar. Dan dari sini tercetuslah ide untuk membuka kelas privat pelatihan membuat martabak. Dengan percaya diri saya merasa ahli, seperti layaknya Chef Juna. 

Melalui Facebook jasa saya tawarkan, cukup dengan uang dua juta rupiah satu set peralatan Terang bulan didapat. Ditambah dengan bonus resep dan training pembuatan tentu respon banyak saya terima. Tapi kebanyakan dari mereka hanya minat mengintrogasi namun enggan untuk mengambil kesempatan. 

Tapi di fase inilah saya belajar, bertemu berbagai macam orang realita kehidupan banyak saya pelajari. Menariknya, salah seorang peserta merupakan orang ternama dikemudian hari. Dulu posisinya sedang berada dibawah. Saat pertama kali mengenal saya sempat salah mengira, dalam berkirim pesan saya sering menyebutnya mbak. 

"mas kulo cowok,"  dia bahkan beberapa kali sampai mengingatkan.

Tangkapan layar ig : agusmagelangan


Dia asal Magelang, awal praktik membuat martabak saya tawarkan belajar dirumahnya. Tapi dia enggan untuk dikunjungi, alasannya dirumah terlalu banyak orang. Saya memaklumi, tapi setelah melihat tayangan podcast di channel youtube Mojokdotco barulah saya sadar. Kehidupannya dulu memang sama seperti saya sekarang. Terpojok keadaan. 

Dia memperkenalkan diri sebagai Agus Mulyadi dan mengaku sebagai OB, jika menurut Puthut EA dia jenaka, tapi menurut saya dia cupu. Terkesan pendiam dan pemalu, minderan. 

Dengan menggunakan celana klimis, dia datang jauh-jauh ke Kartasura mengendarai motor bebek berwarna hitam. Dikamar kos berukuran 3x4 kami memulai pelatihan, kebetulan saat itu kami berdua ditemani oleh seorang wanita. Agus Mulyadi terlihat serius mengikuti pelatihan, entah memang karena menyimak ataupun modus melirik genit ke pacar saya siapa tahu. 

Saya sempat curiga, walaupun mengaku sebagai OB dia nampak seperti seorang kutu buku. Karena belum setenar sekarang, saya tidak begitu mengenalinya waktu itu. Diakhir penghujung acara barulah dia menunjukkan blog pribadi miliknya Agusmulyadi.web.id. Pantas wajahnya begitu familiar, diwaktu senggang tulisannya pernah sesekali saya baca. 

Untuk merubah hidup dia menjelaskan ingin mencoba merintis bisnis kuliner martabak mini. Disekitaran tempat tinggal lapak berniat didirikan, untuk menerima uang pembayaran darinya waktu itu jujur saya merasa tidak enak hati. Tapi kebutuhan mengharuskan saya untuk tetap bersikap profesional. 

Bahkan dia sempat membujuk ingin ikut saya untuk fokus merintis karir di Solo, tapi untungnya tidak jadi. Jika keinginannya waktu itu terwujud, mbak Khalis bisa jadi bersuami orang lain. Dan Agus Mulyadi hanya bakal berakhir seperti saya.

Enam bulan penantian gerobak tidak kunjung selesai dikerjakan. Uang dari mengadakan pelatihan martabak terpaksa saya keluarkan untuk dibelikan gerobak seadanta. Dan ketika berhasil membuka kedai martabak, selang satu bulan usaha mengalami kebangkrutan. Penghasilan tidak mencukupi biaya operasional, angsuran dibank berkendala. Saya terpaksa kembali mengulang semuanya dari awal. Kerja lagi ikut orang. Jika tahu, saya takut ibu semakin kecewa.  

Sebenarnya tidak sepantasnya saya menyalahkan nasib, karena bagaimanapun estafet kehidupan akan terus berjalan. 

Tapi kok? 

Jan gus Agus! Nasibmu malah apikmen saiki! Minder genti aku.

Posting Komentar untuk "Balada penjual martabak dan Agus Mulyadi"