Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Sosok dibalik spanduk warung makan pecel lele Lamongan

Tangkapan layar ig : lek_hartono

Namanya Hartono, mungkin banyak orang yang belum tahu siapa beliau. Tapi jika berbicara tentang warung pecel lele Lamongan, karyanya akan mudah Dilihat.

Bisnis kuliner tidak hanya terkait tentang menjual makanan, dekorasi tempat juga berpengaruh untuk menarik hati para pembeli. Dengan adanya spanduk, memudahkan pembeli untuk mengidentifikasi tempat makan yang akan dipilih. 

Itulah alsannya kenapa dipinggir jalan raya warung pecel lele Lamongan sering terpasang spanduk berwarna putih. Gambar hewan-hewan konsumsi dalam menu menghias. 

Yang mengherankan, disemua warung makan desain spanduk selalu terlihat seragam. Awalnya mungkin banyak orang yang salah mengira jika spanduk dibuat menggunakan mesin. Tapi sebenarnya dialah seniman dibaliknya. 

Menggunakan cara konvensional, spanduk dilukis sesuai pesanan. Pria asal Desa Ngayung, Madura, Jawa timur ini mulai fokus di bidang jasa pembuatan spanduk warung makan sejak tahun 2008. 

Tangkapan layar ig : lek_hartono

Sebelum terjun ke bidang seni melukis spanduk, Hartono sudah mempunyai warung pecel lele Lamongannya sendiri. Awal berdiri tepat di tahun 1997, pengalaman kerja 5 tahun dengan saudara diperantauan membulatkan tekadnya untuk merintis bisnis kulinernya sendiri. 

Namun ketika hendak memulai, Hartono membutuhkan spanduk untuk dipasang ditempat usahanya. Maka dari itu dia menghubungi sang teman dikampung halaman untuk dibuatkan. 

Bukannya diterima, permintaan dari Hartono justru ditolak. Hal ini dilakukan karena sang teman paham dengan kemampuan dari Hartono, dia disuruh untuk membuatnya sendiri.

Melalui arahan dari sang teman yang sudah lebih dulu terjun, peralatan apa saja yang dibutuhkan diberitahukannya. Dari mulai cat, kuas hingga bahan kain spanduk tak luput dari penjelasan.

Tapi siapa sangka, hasil dari pekerjaan pertamanya justru membuat orang tertarik. Dari sinilah pesanan mulai datang satu persatu. Disela-sela berjualan pecel lele Lamongan dia melayani jasa pembuatan spanduk lukis. 

Nah lantas kenapa dia memutuskan untuk gantung wajan?.

Pada saat awal mulai terjun ke seni melukis spanduk, Hartono bertekad, jika pesanan tembus sebanyak 700 pcs dia berencana untuk fokus dalam satu bidang. Dan setelah memutuskan gantung wajan di tahun 2008, sekarang pesanan spanduk sudah menyentuh 4000 buah. Gila bukan?, diseluruh daerah di Indonesia spanduk buatannya sudah menyebar luas. 

Dirumah kontrakan berukuran 3x4 meter, tempat disulapnya menjadi studio lukis. Mengusung nama HSP (Hartono Spanduk Kepayon), dirinya sudah diliput diberbagai media massa baik cetak maupun digital. 

Selain itu dia menjelaskan juga sudah terlalu jenuh dalam berdagang, sebagai penjual pecel lele kaki lima dia sering berganti-ganti tempat karena terusir oleh satpol pp. Keterpurukan juga pernah dirasakan, menanggung beban gaji kedua karyawan juga menjadi salah satu alasan. Pendapatan yang tidak menentu membuatnya ragu. 

Dia meyakini, bisnis barunya dibidang spanduk lukis warung makan tidak akan pernah lekang oleh zaman. Begitu.


Posting Komentar untuk "Sosok dibalik spanduk warung makan pecel lele Lamongan"