Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Rewang, budaya memasak bersama dalam prosesi pernikahan mulai hilang

Sumber : bengawanposkita.wordpress.com

Menginjak umur 20an, menikah menjadi sebuah harapan. Perjuangan dua sejoli dirasa terbayar ketika acara ijab kabul berlangsung. 

Secinta apapun seseorang, jika tidak segera dinikahi rasa sayangnya patut untuk dipertanyakan. Tanggung jawab harus ditunjukkan oleh seorang pria kepada tiap pasangannya melalui jalur pernikahan. 

Namun yang menjadi kendala seringkali biaya pernikahan itu sendiri menjadi beban pikiran. Mengundang banyak orang tentu membutuhkan jamuan makan yang tidak sedikit, dari mulai teh hangat, sop manten, nasi beserta lauk hingga hidangan pencuci mulut wajib dipersiapkan. Beda daerah tentu beda masakan yang disajikan. 

Kalaupun hanya sekedar ijab kabul sebenarnya setiap orang bisa melakukan, tapi para orang tua pastilah ingin yang special untuk sang buah hati. Toh hanya sekali seumur hidup.

Kembali kemasa lampau

Dulu untuk mempersiapkan pernikahan, acara tidak hanya dipikirkan oleh calon mempelai dan pihak keluarga. Para tetangga juga turut serta bergotong royong mempersiapkan keperluan. Atau dalam bahasa jawanya sering disebut 'rewang,' didaerah pedesaan mungkin masih sering dilakukan.

Dalam menyumbang, bentuk yang diberikan tidak selamanya harus berwujud uang. Agar membantu keluarga pengantin, para warga bergotong royong memberikan hasil bumi untuk digunakan sebagai keperluan dalam menjamu tamu. Mereka tidak dibayar sama sekali. 

Setandan buah pisang, gula, telur ayam, beras, teh, umbi-umbian, maupun hewan ternak sudah wajar diterima oleh pihak tuan rumah. 

Didapur yang telah dipersiapkan, para warga terutama ibu-ibu rumah tangga akan sibuk mengolah hasil sumbangan yang terkumpul. Sedangkan untuk bapak-bapak seringkali mendapat tugas untuk membuat teh. Tidak ada paksaan didalamnya, bisa dikatakan rewang merupakan bentuk wujud keharmonisan dalam bertetangga. 

Dan untuk sekarang?. 

Semakin berkembangnya zaman, pola pikir seseorang turut berubah. Sekarang banyak yang mengimani waktu adalah uang, sehingga dari pada merepotkan diri jasa Wedding Organizer lebih banyak dipilih. 

Jika tidak, untuk mempersiapkan jamuan bagi para tamu, terpaksa jasa layanan catering digunakan. Hal ini dirasa juga lebih praktis, pihak dari tuan rumah hanya membutuhkan bantuan tenaga dari para remaja setempat untuk nyinom. Sedangkan para orang tua cukup duduk manis dalam menghadiri acara pernikahan. 

Namun sisi negatifnya, terkadang seseorang suka memaksakan batas, biaya pernikahan yang tidak sedikit mengakibatkan banyak calon pengantin mencari hutang terlebih dahulu. Toh dengan adanya sumbangan uang dari para tamu diharap bisa menutupi pengeluaran. 

Didapur suara penggorengan tidak lagi terdengar, percakapan para tetangga saat memasak bersama mulai sayup-sayup menghilang. Hasil bumi tidak lagi dibutuhkan oleh tuan rumah. 

Karena tenaga tidak terlalu dibutuhkan, terpaksa para tetangga hanya bisa membantu dengan menyumbangkan sejumlah uang. Yang tidak berubah dari dulu sampai sekarang, rasa sungkan masih tertanam sebagai norma di masyarakat.

Itu bagus, tapi jangan didasari karena perasaan takut. Takut tidak balik modal jika mereka balik tidak menyumbang. Duh. 

 

Posting Komentar untuk "Rewang, budaya memasak bersama dalam prosesi pernikahan mulai hilang"