Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Meninggalkan profesi Bartender diluar negeri demi berjualan kopi keliling

Tangkapan layar yt : Capcapung

Lulus kuliah mempunyai pekerjaan tetap di sebuah hotel berbintang merupakan salah satu dambaan, karena bisa dikatakan kepastian hidup telah terjamin. 

Tapi bagi sebagian orang, berada di posisi tersebut terkadang menjenuhkan. Dibanding materi, kepuasan batin jauh lebih ingin didapat. Maka dari itu tak jarang banyak orang berani keluar dari zona nyaman untuk menggapai mimpi. 

Seperti yang dilakukan oleh Sariaman Manik, dia merupakan owner dari KOPLING (Kopi Keliling). 

Sebelum membuka usaha Kopling, Sariaman manik pernah bekerja di hotel-hotel berbintang baik dalam maupun luar negeri. Menjadi seorang Bartender telah dijalani sejak tahun 1999. Dan dari profesinya terdahulu berbagai gelar bergengsi pada kompetisi Bartender sering dimenangkan. Jadi tidak diragukan lagi puncak karir telah didapat.

Lucunya, sebelum terjun kedunia barista Sariaman Manik justru tidak menyukai kopi. Sebagai seorang Bartender wajar dia lebih menikmati alkohol. Karena bagaimanapun minuman Coktail lebih sering dijumpai.

Namun semenjak mulai mengenal tentang dunia kopi, perasaan cintanya tumbuh. Sariaman Manik baru menyadari tiap biji kopi mempunyai citarasa tersendiri. Dan karena itulah dia memutuskan untuk meninggalkan dunia Bartender yang telah membesarkan namanya. 

Yang membuat salut, kembali mengikuti pelatihan tidak malu Sariaman Manik jalankan. Jika di dunia Bartender dia merupakan seorang ahli, di dunia Barista justru dia merupakan seorang pemula waktu itu. 

Bagi warga sekitar dan kedua orang tuanya, Sariaman Manik justru dianggap bodoh karena rela melepaskan pekerjaannya tersebut. Terlebih mereka mengetahui bahwasanya pulang kekampung halaman lebih dipilih, kecewa jelas. Mereka beranggapan, pendidikan tinggi dan pengalamannya di luar negri teramat sayang untuk ditinggalkan.

Tapi seperti kebanyakan pejuang kehidupan, pembuktian ingin ditunjukkan. Menggunakan Bentor (becak bermontor), bisnis kopi keliling mulai dijalankan. 

Tangkapan layar yt : Capcapung

Alasannya memilih berjualan kopi dengan berkeliling terbilang sederhana, berasal dari Lumban Manik, Lumban Shui-shui, Samosir, armada yang sering digunakan oleh warga untuk transportasi adalah Bentor

Maka dari itu, agar warga bisa merasakan kopi bintang lima dengan harga kaki lima dipilihlah Bentor sebagai tempat berjualan. 

Minum kopi sambil berkeliling menikmati pemandangan indah Danau Toba siapa juga yang tidak terbuai?. 

Sebenarnya, kopi sendiri bagi masyarakat Samosir terbilang spesial. Sariaman Manik menjelaskan, jika ada tamu yang berkunjung kerumah, suguhan kopi wajib dikeluarkan. Sebagai teman berbincang, secangkir kopi dapat menghangatkan suasana. 

Terlebih kopi sendiri merupakan salah satu komoditi utama, para petani kopi disana sangat terbantu dengan hadirnya Kopling. Jika biasanya mereka menjual dengan harga murah, Sariaman Malik membelinya dengan harga yang lebih tinggi. Dalam menjual hasil panen, para petani tidak perlu lagi melalui tengkulak. 

Padahal dulu, para petani seringkali dibodohi. Dikutip dalam channel youtube Capcapung, Sariaman Manik menceritakan, pada awalnya biji kopi Arabica hanya digunakan sebagai bahan pembuatan mesiu di daerahnya. Para petani seringkali ditipu dengan doktrin-doktrin ala kolonial, sehingga para pemain kopi dapat membeli bijinya dengan harga yang murah dan dijual kembali dengan harga yang lebih tinggi. 

Melalui berbagai pendekatan, para warga diberikan edukasi terkait dunia kopi. Apa yang mereka tanam sebenarnya mempunyai nilai jual tinggi. 

Dan kini Sariman Manik telah menjadi ketua UMKM di Kabupaten Samosir. Bersama dengan komunitas kopinya, potensi daerah dapat ditingkatkan. 


Posting Komentar untuk "Meninggalkan profesi Bartender diluar negeri demi berjualan kopi keliling"