Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Kenapa selalu ada timun di tiap hidangan?


Di Indonesia, timun seringkali dijadikan sebagai bahan pendamping dalam makanan dan biasanya digunakan sebagai lalapan

Terlepas dari perdebatan "timun itu buah apa sayur?," seseorang seringkali menyepelakan kondimen yang satu ini dan tak jarang hanya disisihkan. 

Bahkan ada juga yang ketika makan timun justru dijadikannya sebagai campuran untuk kobokan cuci tangan. Biasanya dimasukkan kedalam baskom atau mangkuk kecil yang berisikan air. 

Tapi bagi penikmatnya, timun akan teramat sayang jika masih tersisa diatas piring. Jika melihat teman tidak menghabiskan, tanpa malu bahkan timun bisa diminta. Daripada mubazir.

Kalian sendiri sukan makan timun untuk dijadikan hidangan pencuci mulut atau dimakan langsung bersaman nasi?. 

Dari kejadian diatas dapat dikatakan perilaku seseorang dalam mengekpresikan timun beraneka ragam. Tidak hanya saat mengkonsumsi, ketika mengolahnya timun bisa juga dijadikan berbagai varian bentuk. Sebut saja potongan bulat, memanjang, maupun dadu.

Namun pada tiap bentuk tidak bisa asal ditempatkan pada sebuah masakan, pada bentuk potongan bulat semisal, akan lebih cocok digunakan sebagai hidangan makanan berbahan baku daging (ayam bakar, ayam geprek, gongso, dll).

Sedangkan pada potongan dadu, bentuk seperti ini biasanya dipakai untuk pembuatan acar. Dan akan sangat cocok dimakan dengan mie ayam, martabak telur maupun nasi goreng. 

Tapi asal kalian tahu, memakan timun bukan hanya sekedar selera. Pada komposisi hidangan, timun juga mempunyai manfaatnya sendiri. Sebagai contoh :

Yang pertama, menetralkan kandungan lemak yang tinggi pada makanan. 

Kolestrol seringkali menghantui, imbasnya para penderita kolestrol tidak boleh sembarangan dalam memilih makanan. Terutama menu makanan yang menggunakan bahan baku daging. 

Dengan hadirnya timun, resiko tersebut dapat di minimalisir. Vitamin K dalam timun juga dapat menurukunan tekanan darah dan mencegah penumpukan mineral di arteri. 

Yang kedua, menjadi pelengkap untuk menu yang kurang serat. 

Apa kalian pikir nasi ayam geprek yang terdapat tambahan timun sekedar merupakan formalitas belaka?. 

Jelas tidak, karena jenis menu seperti diatas hanya banyak mengandung karbohidrat dan protein, sedangkan untuk serat dan vitamin bisa dibilang minim. Maka dari itu timun diberikan untuk memenuhi keseimbangan gizi pada makanan. 

Yang ketiga, pemberi aroma segar untuk hidangan yang berbau tajam. 

Seperti halnya makanan pedas, bau dari cabai seringkali menyengat hidung. Namun jika disampingnya terdapat potongan timun, bau menyengat dapat dinetralisir. Kesegaran pada timun menjadi faktor penyebab. Dan pada akhirnya aroma makanan akan lebih menggugah selera.

Yang terakhir, agar hidangan terlihat estetik. 

Penampilan sangat diperlukan dalam menyajikan sebuah makanan. Jika visualisasi makanan ala kadarnya, nafsu makan bisa mengalami penurunan. Jangankan menghabiskan, untuk menyentuhnya saja enggan. 

Nah dengan adanya tambahan timun, warna hijau pada kulit dapat mempercantik hidangan. Gradasi warna terpancar. Begitu. 


Posting Komentar untuk "Kenapa selalu ada timun di tiap hidangan? "