Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Burger nyamuk afrika, inovasi kuliner ditengah keterbatasan

Serangga bisa dijadikan sebagai alternatif pengganti makanan yang kaya akan protein. Tapi bagi sebagian orang, untuk menerimanya masih terasa sulit.

Karena belum terbiasa perasaan jijik pastilah tersirat dalam benak, membayangkan nasi goreng bertoping jangkring maupun ulat siapa juga yang tidak mual?.

Di Indonesia sendiri, serangga yang umum dijadikan sebagai bahan makanan yaitu belalang, itupun hanya dikonsumsi sebagai camilan. Di daerah Wonogiri maupun Gunung kidul akan mudah kalian jumpai. 

Banyak peneliti mengatakan, dimasa depan serangga merupakan salah satu penyelamat bagi umat manusia ketika mengalami krisis pangan. Alasannya tentu karena semakin lama populasi manusia semakin bertambah, dampaknya alam akan lebih banyak mengalami kerusakan. Jika terus bergantung dengan hewan ternak, pakan yang tersedia tidak akan mencukupi. 

Nah disinilah peran dari serangga hadir, mempunyai ukuran yang lebih kecil otomatis pakan yang dibutuhkan tidak terlalu banyak. Sehingga beternak serangga dapat membantu mengurangi kerusakan alam.

"Kebanyakan manusia sering tidak peduli terhadap isu lingkungan, namun ketika musibah hadir barulah mereka sadar."

Tidak usah menungu sampai masa depan, untuk sekarang saja bahkan negara-negara di benua Afrika sudah banyak yang mengalami krisis pangan. Keterbatasan ekonomi membuat para warga kesulitan untuk membeli bahan makanan, asupan gizi sangat sulit sekali terpenuhi. 

Mereka tidak bisa mengandalkan alam seperti halnya di negara-negara Asia, iklam tidak mendukung untuk mereka sekedar beternak maupun bertani. Miris memang. 

Menurut laporan dari Save the Children, di tahun 2030 mereka memperkirakan 433 juta orang di seluruh Afrika akan mengalami kekurangan gizi.

Tangkapan layar yt : Separuh Info

Di daerah afrika timur semisal, agar dapat memenuhi kebutuhan gizi, mereka bahkan sampai memodifikasi hamburger menggunakan bahan baku serangga. Berada di antara danau Victoria, negara Kenya dan Afrika memanfaatkan nyamuk untuk dikonsumsi. 

Terlebih di musim penghujan, dengan menggunakan peralatan seadanya mereka menangkap nyamuk dengan cara konvensional. Biasanya dengan dibantu oleh anak-anak nyamuk dicari disekitaran semak-semak. Panci yang dibasahi air terlebih digunakan sebagai alat untuk menangkap. 

Satu bulatan burger biasanya membutuhkan sekitar 500.000 nyamuk, ketika sudah terkumpul barulah nyamuk dijadikan satu untuk dibentuk menyerupai patty burger. Yang membedakan secara visual, burger nyamuk lebih berwarna hitam pekat. Bagi yang belum tahu mungkin akan dikiranya daging telah gosong. 

Salah seorang netizen bercerita, saat berada di Mozambik dia pernah mencicipi burger nyamuk. Untuk dirinya sendiri makanan ini terbilang mengejutkan, sedangkan untuk urusan rasa dia mengatakan tidak enak dan sedikit hambar. 

Hal ini sebenarnya wajar, karena tidak bisa dipungkiri saat memasak para warga hanya menggunakan peralatan dan bahan-bahan seadanya. Tanpa ada campuran bumbu rempah, daging nyamuk hanya dimasak diatas wajan berisikan minyak panas. 

Cita rasa dalam masakan tidak begitu menjadi prioritas, asal bisa bertahan hidup sudah dirasa cukup untuk mereka. 

Kalian masih belum bersyukur?. 


Posting Komentar untuk "Burger nyamuk afrika, inovasi kuliner ditengah keterbatasan"