Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Ayam bakar taliwang, alat politik untuk mensukseskan mediasi


Di Indonesia untuk sekedar mencicipi berbagai makanan berbahan baku daging ayam sangat mudah dilakukan, karena tidak bisa dipungkiri dimensi rasa pada masakan hadir pada tiap daerah. Seperti halnya di pulau Lombok dengan sajian khas ayam taliwang, maupun di Bali yang terkenal dengan ayam betutunya.

Keanekaragaman kuliner sendiri bisa terjadi karena kebudayaan merekontruksi makanan, sehingga perubahan terjadi guna menyesuaikan dengan keadaan masyarakat. 

Berbicara tentang masakan daerah berbahan baku ayam, pada acara kompetisi memasak MasterChef season 8 di tahap audisi ada salah seorang peserta yang menyajikan ayam bakar taliwang. Namanya adalah Seto, berprofesi sebagai Dosen pengajar dia berhasil lolos ketahap selanjutnya.  

Walaupun tidak begitu sempurna, Ayam gulung taliwang bumbu salak buatannya berhasil meluluhkan hati ketiga dewan juri. Sedikit kritikan hanya diberikan oleh Chef arnold, Juna dan Renata terkait tambahan eksediti agar masakannya lebih terasa lezat. 

Namun bukan hal itu yang membuat saya tertarik, melainkan penjelasan dari Seto ketika menyajikan makanan justru lebih mengundang rasa penasaran. Tidak hanya saya, ketiga dewan juri bahkan juga bereaksi sama. Background Seto sebagai Dosen Antropologi yang mengajar makanan dan kebudayan menjadi penyebab. 

Dari ekpresi para juri, mereka sekiranya baru tahu ternyata mata perkuliahan antropologi makanan dan budaya juga ada. Jika seorang Chef lebih berfokus kepada praktek memasak, Seto cenderung lebih menguasa ilmu terkait teori sejarah makanan. Sangat bertolak belakang memang, jika dianalogikan mungkin para juri layaknya siswa SMK (Sekolah Menengah Kejuruan) sedangkan untuk Seto seperti siswa SMA (sekolah Menengah Atas).

Tangkapan layar youtube : MasterChef Indonesia

Ditengah melakukan persiapan bahkan Chef Juna sampai melontarkan pertanyaan kepada Seto untuk mengetes wawasannya terkait cerita dibalik sebuah masakan. Penjelasan tentang sejarah ayam taliwang ingin diperoleh. 

Diawal menjelaskan Seto sendiri terlihat grogi, perkataannya sedikit terbata-bata. Fokusnya dalam memasak sedang diuji, tapi dia berhasil menerangkan kepada ketiga dewan juri layaknya dosen kepada para mahasiswa pada akhirnya.  

Sambil menyelesaikan hidangan Seno bercerita, awal mula masakan ayam taliwang hadir dikarenakan dahulu ada perselisihan antar dua kerajaan. Yaitu kerajaan Selaparang di Lombok dengan kerajaan Karangasem di Bali. Tapi Raja Selaparang sendiri merasa jenuh dengan peperangan. 

Alhasil beliau meminta bantuan kepada pihak ketiga untuk menengahi perselisihan, dan kerajaan Taliwanglah yang dipilih sebagai juru damai. 

Agar pihak dari kerajaan karangasem dapat menerima itikat baik, maka diutuslah para pemuka agama, pengurus/penjaga kuda dan juru masak kerajaan Taliwang untuk melakukan mediasi. Nah disinilah untuk pertama kali ayam bakar taliwang tercipta, agar pertemuan menjadi special juru masak kerajaan mengeluarkan menu baru untuk meluluhkan hati para raja di Karangasem Bali.

Melalui dunia kuliner, loby politik juga dilakukan guna membawa perdamaian ternyata. Wah!. 







Posting Komentar untuk "Ayam bakar taliwang, alat politik untuk mensukseskan mediasi"