Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Sosok Profesor pisang di Bantul, bangun dari keterpurukan pasca bencana alam

Saya masih ingat betul, tepat di tanggal 27 mei 2006 dini hari saya terbangun lebih awal. Tidur nyenyak saya terganggu akibat gempa besar di Jogja, walaupun berada jauh tapi getaran amat terasa. Saya mengira bahwasanya kiamat sudah datang, orang-orang keluar rumah dengan panik. Saya juga demikian.

Pasca kejadian tersebut, acara televisi sibuk memberitakan dampak dari bencana. Selain memakan korban jiwa, masyarakat turut kehilangan rumah. Beruntung daerah tempat tinggal saya bangunan-bangunan masih berdiri kokoh. 

Teruntuk masyarakat Jogja, keterpurukan pastilah dialami. Trauma akibat bencana alam tidak bisa dipungkiri adanya.

Namun siapa sangka?, dari tragedi gempa Jogja waktu itu, ada salah satu orang yang berhasil bangkit. Dan berkat kegigihannya masyarakat sekitar justru menjadi terbantu.

Tangkapan layar yt : CNN Indonesia


Perkenalkan namanya Lasiyo, pria asal Dusun ponggok, Desa Sidomulyo, Kecamatan bambanglipuro, Bantul. 

Dari budidaya pohon pisang, kesejahteraan masyarakat disekitar pada akhirnya berhasil diciptakan. Walaupun hanya tamatan SMP (sekolah menengah pertama), beliau mendapat julukan Profesor pisang. 

Lucu memang, gelar Profesor pada umumnya hanya bisa diperoleh melalui jalur akademis. Tapi berkat dedikasinya di dunia pisang, gelar tersebut sangat layak disematkan. 

Hal ini bermula ketika Lasiyo berinisiatif untuk berkordinasi dengan pihak kelurahan. Dengan bapak lurah setempat Lasiyo mencoba bertukar pikiran dan alhasil idenya diterima. Sedangkan wujud dari realisasi perbincangan mereka, pihak kelurahan kemudian mengeluarkan Perdes (peraturan desa) yang bertujuan untuk membantu warga di tahun 2017. 

Lasiyo menjelaskan "agar masyarakat mengikuti arahan dari pihak kelurahan, bapak lurah setempat menjanjikan memberikan warganya bibit pohon pisang apabila mereka mau menanam minimal 50 batang di lahan pribadi mereka." 

Pisang sendiri dipilih karena mudah dalam ditanam, dimanapun bisa dilakukan. Selain itu untuk harga bibitnya sendiri terbilang murah namun harga jual yang dimiliki jauh lebih stabil dibandingkan komoditas lain. 

Agar keterampilan terkait pertanian pisang dimiliki, Lasiyo dan para warga tidak ketinggalan untuk mengikuti pelatihan yang diadakan oleh pihak Kelurahan setempat.  

Tangkapan layar yt : kementrian Pertanian RI

Pada awal bertani, Lasiyo menanam 100 batang pohon pisang raja. Setelah dirasa berhasil barulah dia kemudian mendatangkan Varietas baru untuk dikembangkan. Khususnya pisang lokal seperti khas Indonesia. 

Lasiyo bisa dibilang orang yang suka mencoba hal baru. Karena dilandasi rasa keingin tahuan beliau bahkan juga mengembangkan pupuk organik dan pestisida yang berfungsi untuk membantu menyuburkan tanah dan dapat membuat tanaman pisang lebih cepat berbuah. 

Melalui berbagai eksperimen komposisi alami berhasil diciptakan, dimana pupuk dan peptisida buatannya berasal dari bahan organik. Campuran dari berbagai tumbuhan dan kotoran ternak racikannya terbukti berhasil dan mengantarkannya sampai ke Italy. 

Tepatnya di tahun 2015, Lasiyo kedatangan tamu kelompok bule dari Italy untuk belajar. Lasiyo sendiri sempat mengira bahwasanya mereka hanya bercanda ketika ingin mengajaknya pergi ke luar negri.

Dan pada tahun 2016 siapa sangka, ternyata benar Lasiyo diajak pergi ke Turin, Italy untuk mendatangi pertemuan Salo Del Gusto Tella Madre.

Jika belum tahu, acara tersebut merupakan ajang bertemunya para penggerak di bidang pangan dan ilmu gastronomi yang ramah lingkungan. Berkat pencapaiannya, beragam penghargaan diterima baik dari Pemerintah daerah Yogyakarta maupun pemerintahan pusat. Begitu. 



Posting Komentar untuk "Sosok Profesor pisang di Bantul, bangun dari keterpurukan pasca bencana alam"