Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

kisah nyata di kebumen, jangan berani beli nasi di daerah ini


Di Indonesia mitos masih sering menempel diberbagai bidang, hal berbau mistis entah kenapa masih banyak dipercayai.  

Dalam dunia kuliner semisal, ada beberapa mitos yang sering terdengar. Sebagai contoh, ketika membuka usaha sebuah tempat makan disarankan untuk menghindari lokasi tusuk sate (persimpangan pertigaan jalan). Atau agar bisnis kuliner ramai pembeli, jimat penglaris dari orang pintar wajib digunakan. 

Tidak hanya itu, kalian mungkin pernah juga mendengar mitos "makan ditempat akan terasa lebih enak dibandingkan makanan dibawa pulang"

Ironis memang, padahal kalau dipikir secara nalar, makan ditempat tentu bisa lebih enak karena suhu dari makanan itu sendiri masih terasa hangat. Dan jika dibawa pulang makanan akan menjadi dingin. Simpel. 

Sedangkan untuk urusan mencari lokasi usaha, dipersimpangan jalan tentu akan kesulitan mendapatkan pembeli karena untuk singgah ketempat akan susah untuk menyeberang jalan. Dari pada berisiko mengalami laka lantas para pembeli akan lebih memilih tempat makan lain yang mudah untuk diakses. 

Karena kurangnya pengetahuan tentang bisnis banyak orang mengambil jalan pintas, salah satunya dengan cara datang ketempat orang pintar. 

Asal diketahui, bisnis kuliner tidak hanya berbicara tentang menyiapkan dan menjual makanan, tapi ada beberapa faktor yang mempengaruhi agar usaha kalian ramai pembeli. Bisa kalian baca 8 alasan brand kuliner kita dipilih pembeli.

Ketakutan terhadap dampak buruk yang diterima jika mengabaikan mitos justru menjadikan masyarakat mengalami kecemasan.


Seperti dilansir dari kanal youtube mrapatdotid, apa jadinya coba ketika lapar tidak ada yang menjual nasi?.

Tersiksa?, jelas!, karena bagaimanapun nasi tidak bisa dilepaskan dari kehidupan sehari-hari. Terpaksa harus memasak beras sendiri banyak dialami oleh warga desa penimbun, kec. Karangayam, Kebumen.

Jika kalian singgah untuk membeli makan jangan harap ada tempat yang menjual nasi. Desa Penimbun sendiri sekilas mirip dengan daerah lain di kecamatan Karangayam, namun disini ada sebuah mitos mengatakan pengusaha tempat makan dilarang menjual nasi. Apabila dilanggar masyarakat akan mendapatkan musibah, menakutkan memang. 

Pemerintah daerah setempat bahkan membenarkan adanya mitos tersebut, jika ada warga yang kedatangan tamu terpaksa membeli nasi diluar daerah mereka lakukan. 

Nah kalau ada pembeli yang nekat meminta nasi?. 

Para pemilik tempat makan akan menolaknya atau kalau tidak mereka lebih memilih untuk memberikannya secara gratis. Kepercayaan daerah tidak berani mereka langgar. Walaupun sudah berada di era modern kepercayaan ini masih banyak dipercayai oleh para warga Desa Penimbun. 

Selain takut mendapatkan musibah, ternyata dibalik mitos tersebut ada makna filosofinya tersendiri. Menurut para nenek moyang di Desa Penimbun terdahulu beras bukan hanya sekedar barang komoditi. 

Dalam menanam padi para petani memerlukan banyak perjuangan karena Desa Penimbun sendiri mempunyai sawah dengan sistem tadah hujan. Hanya mengandalkan air hujan tentu dimusim kemarau tanah yang mereka miliki seringkali tandus. Sehingga arti penting dari sebutir beras mereka sadari. 

Maka dari itu wajar saja jika mereka lebih memilih untuk saling membaginya karena beras merupakan penyambung tali persaudaraan. Dengan demikian apabila saling membantu kelaparan tentu tidak akan dialami oleh warga Desa Penimbun. Begitu. 

Jadi sebenarnya mitos terkait dunia kuliner harus kita tolak atau dipercayai?. 

Posting Komentar untuk "kisah nyata di kebumen, jangan berani beli nasi di daerah ini"