Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Sampah makanan hadir ketika si rakus tidak sadar akan batasan yang dimiliki

By : pixabay

Kalian sering tidak menghabiskan makanan?  

Pandemi COVID-19 menyadarkan saya tentang pentingnya rasa bersyukur. Sebagai seorang pedagang kuliner mengeluh tentang penurunan omset sebenarnya wajar terjadi. 

Namun dimasa sekarang jangankan menabung, jumlah pendapatan harian bisa digunakan untuk menyambung hidup sudah merupakan sebuah anugrah. 

Sekedar kalian ketahui, sebelum pandemi hadir untuk makan saya tidak perlu berfikir dua kali untuk memilih apa yang saya suka. Nominal harga pembelian bukan sebuah permasalahan, bahkan jika dirasa masakan tidak sesuai lidah saya sering tidak menghabiskan. Di atas piring tentu masih menyisakan banyak nasi. 

Memang watak dasar manusia, jika belum merasakan pengalaman getir secara langsung, seseorang akan sulit tersadarkan. 

Dan kini?. 

Untuk menghemat pengeluaran, sehari terkadang saya cuma makan sekali. Jika penjualan sedang sepi agar di malam hari dapat tidur nyenyak saat siang saya mencoba menahan lapar. Disekitar sore sampai malam hari barulah nasi terbeli. Ini realita dan sedang saya alami.  

Sebutir beras ternyata sangat berharga, bayangkan! jika seorang menyisakan tiga butir nasi maka dalam sekali makan rakyat Indonesia menghamburkan 750 juta butir beras (dikali jumlah penduduk 250 juta jiwa).

Apabila satu kilogram berisi 50 ribu butir beras untuk 750 juta butir mempunyai berat 15.000 kg atau setara dengan 15 ton.

Dan jika dalam sehari tiga kali makan berapa puluh ton beras coba terbuang percuma?.

Saya mencoba berimajinasi, apabila sisa nasi bisa dibagikan kepada orang yang membutuhkan, pemerintah tentu tidak perlu mengeluarkan bantuan raskin (beras miskin) setiap bulan. Impor beras juga tidak dibutuhkan karena sudah menerapkan gaya hidup minim sampah makanan. Anggaran tersebut tentu bisa terserap untuk sektor yang lain. Sektor kesehatan semisal. 

Saya jadi teringat tentang kenangan semasa kecil ketika berada dirumah. Sama seperti sebelum pandemi menyerang, untuk makan saya tidak perlu repot. Karena kedua orang tua sudah menjamin kebutuhan pokok.

Diatas meja makan, nasi dan berbagai lauk tersedia. Terkadang bahkan saya mengutarakan permintaan agar dibuatkan menu kesukaan kepada ibu, rica-rica ayam berbumbu rempah. 

Tapi yang saya heran justru seusai makan, nenek dirumah dengan sabarnya mengumpulkan sampah sisa makanan. Baik itu sayur-mayur maupun sisa nasi diatas piring.

By : pixabay

Jujur saya sendiri waktu itu merasa heran dan sedikit jijik, untuk apa coba?. 

Dibelakang rumah, kami mempunyai sedikit hewan ternak seperti halnya ayam dan ikan lele. Tapi kalau untuk sekedar memberi makan mereka saya rasa pelet dan pur ayam sudah cukup disiapkan oleh bapak.

Pernah saya bertanya langsung kepada nenek.

"buat apa to mbah?."

Beliau dengan lemah lembut menjawab, "mubazir nak kalau dibuang, biar ayam-ayammu cepat besar," saya cuma bisa menghela napas. 

Diusia beliau saya merasa tidak tega ketika melihat, sedangkan kedua orang tua saya sudah memaklumi. Ketika mencoba memberikan saran kepada bapak agar menyuruh nenek menghentikan aktifitasnya saya justru dinasehati balik. 

"Sudah tidap apa-apa, besuk kamu juga tahu sendiri. Mungkin nenekmu bosan tidak ada kegiatan dirumah. Dimaklumi saja." Saya hanya bisa menggerutu dalam hati.

Tiap hari dengan telaten nenek melakukan kegiatan tersebut. Bahkan tidak jarang juga kerak nasi sisa di dalam magicom turut dikumpulkan. Namun tidak dijadikan satu dengan bekas sampah sisa makanan yang lain. 

Menggunakan tampah (sejenis wadah dari anyaman bambu) sisa nasi dari magicom dibersihkan menggunakan air terlebih dahulu kemudian dijemur untuk dikeringkan. Dari bahan seadanya, sisa kerak nasi disulap oleh nenek untuk dijadikan camilan.

Kalian pernah mencoba camilan intip goreng?.

Olahan makanan berbahan dasar sisa nasi tidak termakan ternyata mempunyai rasa lezat. Dari yang semula merasa jijik, justru saya sangat menyukai setelah mencoba. Apalagi ditambah dengan olesan kecap manis diatasnya, lidah saya menjadi terpuaskan. Gurih dan manis berpadu menjadi satu. 

Sore hari diberanda depan rumah sebelum maqrib menjelang, sambil memakan intip goreng nenek sering menceritakan kepada saya tentang kisah pengalamannya semasa muda dulu. Walaupun sudah berulang kali diceritakan perasaan bosan tidak menghampiri.  

Kisah perjuangan menghidupi keempat orang anak dilalui begitu keras. Sebagai seorang janda, nenek sering membantu para pemilik sawah, entah itu menanam maupun memanen padi. 

Menginjak kelas 4 SD, bapak sudah ditinggal kakek. Sehingga perjuangan apa yang nenek alami jelas berkali-kali lipat lebih berat dibandingkan dengan kehidupanku sekarang yang belum berkeluarga. 

Sebagai buruh tani, bayaran yang didapat tentu tidak seberapa. Nenek menceritakan terkadang dia rela menahan lapar asalkan sang anak sudah merasa kenyang. 

Nenek berlinang air mata jika mengingat kehidupannya dulu, terkadang kalau sedang gagal panen otomatis pekerjaan disawah tidak didapat. Untuk memenuhi kebutuhan hidup meminjam uang ke saudara maupun tetangga terpaksa dilakukan.

Pada akhirnya perkataan bapak ternyata benar, kini saya juga turut memaklumi

Saya merasa bersalah, ketika sudah mempunyai kewajiban hidup mandiri barulah saya menyadari ternyata dibalik sebutir nasi terdapat banyak sekali perjuangan didalamnya untuk mendapatkan. 

Saya rindu dengan kehidupan seperti dulu, namun tetap tenggelam dalam penyesalan layaknya tidak patut dipertahankan. Melalui pembelajaran hidup pendewasaan diri mulai terbentuk. 

Hal sekecil apapun jika dihargai maka akan memberikan dampak positif. Dimasa Pandemi COVID-19 dengan bebas sampah makanan, diharap kelayakan hidup masyarakat dapat meningkat. 

Cukup dengan menghabiskan makanan tanpa sisa kalian turut serta berempati terhadap sesama. Ketahuilah batasan kalian sebelum mengambil makanan. 

Kalian mau dipanggil si rakus?. 

Posting Komentar untuk "Sampah makanan hadir ketika si rakus tidak sadar akan batasan yang dimiliki"