Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Kisah sukses merintis bisnis kuliner roti bakar di karanganyar

Ig : rotbak_anaksholehkra_

Berbicara tentang kisah sukses dalam merintis bisnis kuliner, di era pandemi covid-19 seperti sekarang minat masyarakat untuk berwirausaha semakin besar. 

Hal ini bisa terjadi karena mereka mulai sadar tak selamanya posisi mereka aman. Sebagai seorang pegawai mendapat surat pemecatan dari kantor tentu menjadi sebuah resiko. Kenyataan pahit dalam hidup tentu tidak ingin mereka alami. 

Jika tidak punya pegangan hidup, jaminan masa depan keluarga bisa terancam andaikata mengalami PHK. 

Maka dari itu untuk mengantisipasi kemungkinan terburuk, banyak orang mulai merintis bisnis terutama di bidang kuliner. Karena selain perputaran uang cepat, modal yang dibutuhkan juga fleksibel tergantung jenis usaha yang dipilih. 

Dan jika menghadapi pemecatan tidak bisa dipungkiri untuk mencari pekerjaan baru terlampau sulit. Banyaknya pesaing ditambah minimnya lowongan pekerjaan menjadi penyebab terjadinya pengangguran. Selain itu adanya persyaratan batasan maksimal usia tentu akan lebih menyudutkan. 

Atas dasar tersebut maka teman saya seusasi lulus kuliah lebih memilih untuk mengembangkan usaha yang telah dirintis. Sebagai seorang sarjana dari alumni kampus IAIN Surakarta lapangan pekerjaan ingin disediakan bagi orang-orang yang membutuhkan.


Oh iya perkenalkan teman saya bernama Romadhoni sulitriyadi. Pemuda berusia 26 tahun asal gerdurejo rt04/11, tegalgede, Karanganyar ini telah berhasil mengembangkan usaha roti bakar sampai memiliki 8 cabang.

Ternyata tak selamanya gelar sarjana mengikat seseorang untuk harus bekerja kantoran. 

Sedikit cerita dimasa lalu, saat masih duduk di bangku SMA yadi panggilan akrabnya sudah mulai hidup mandiri, untuk mencukupi kebutuhan setiap hari seusai pulang sekolah dia bekerja paruh waktu. Fase sebagai karyawan tentu sudah pernah dirasakan, dimana setiap hari dia mendorong grobak dari tempat penitipan sampai kelapak tempat berjualan. Berat wis pokoke!. 

Tapi berkat pengalaman tersebut keahlian dalam meracik roti dimiliki dan di bulan agustus tahun 2015 pada akhirnya dia memutuskan untuk berdikari. 

Bagi warga Karanganyar tentu tidak asing dengan nama roti bakar anak sholeh. Dimana pada setiap jalan grobak warna kuning merah ciri khasnya menghias diberbagai sudut tempat. 

Dimulai dari gardu tegal gede karanganyar (sebelah timur lampu merah) outlet pertama didirikan. Saat itu dia belum mempunyai pegawai, segala sesuatu masih dikerjakan seorang diri. Barulah lambat laun gerobak yang dimiliki bertambah banyak. Dari satu buah gerobak pada akhirnya bertambah menjadi delapan buah. 

Dan kini omsetnya kalian tahu? Paling sedikit uang 35 juta rupiah didapat setiap bulan. Menggiurkan bukan?. 


Dari mulai harga Rp. 8000 sampai Rp. 15.000 @rotbak_anaksholehkra_ sangat terjangkau bagi masyarakat Karanganyar. 

Jika roti bakar lain hanya menggunakan kertas minyak sebagai pembungkus, disini wadah yang dipakai menggunakan kardus roti. Sehingga apabila dijadikan sebagai buah tangan akan terkesan elegan. 

Dari mulai rasa melon, strawbery, nanas, bluebery, coklat, vanila, kacang, keju, durian tentu saja lengkap tersedia. Namun apa kalian pernah mencoba roti bakar dengan toping madu?. 

Sebagai seorang pemuda kreatif, yadi mencoba memberikan inovasi menarik kepada produknya. Nikmatnya manis madu tentu dapat menambah kelezatan pada roti. Tidak perlu mahal, cukup dengan menambah uang Rp. 5000 rupiah roti bakar ekstra madu sudah bisa diperoleh. Pantas saja warga Karanganyar selalu bahagia. 

Melalui para pemuda kesejahteraan masyarakat bisa meningkat. Tidak perlu muluk-muluk, dari sebuah usaha gerobakan kecil apabila berkembang lambat laun juga akan menjadi besar. Dan tentu akan menyerap banyak lapangan pekerjaan. 

Apa kalian tidak mau sukses mendirikan banyak cabang usaha kuliner seperti yadi?. 







Posting Komentar untuk "Kisah sukses merintis bisnis kuliner roti bakar di karanganyar"