Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Kantin kampus Bu Sri WTS tempat makan ndelik di Kartasura

Kantin kampus bukan hanya sekedar tempat makan, banyak cerita tersirat didalamnya. Dimana bangku-bangku menjadi saksi antar manusia untuk saling bertukar pikiran. 

Entah itu sekedar berdiskusi tentang dunia perpolitikan kampus bahkan sampai beradu argumen terkait eksistensi tuhan. Abot pokoke. 

Bisa menjadi wadah bagi para mahasiswa untuk berdialog tentu merupakan salah satu Daya tarik dari sebuah tempat makan di area perkampusan. 

Jujur dulu saya merasa lebih ber-intelektual ketika berada di kantin dari pada saat dikelas. Karena disini inspirasi lebih mudah didapat, dari sebuah perbincangan didampingi dengan segelas kopi otak akan leluasa untuk melahirkan kreatifitas. 

Bermodal membeli minuman seharga Rp. 3.000 para pengunjung dengan bebas dapat berlama-lama untuk duduk tanpa takut terusir. Terlebih bagi anak-anak UKM (Unit kegiatan mahasiswa), tak jarang dari pagi sampai sore mereka tidak beranjak dari tempat duduk. Namun bu Sri sebagai pemilik tidak merisaukan hal tersebut. 

Bonusnya, menggoda adik tingkat menjadi sebuah hiburan tersendiri. Yah bisa dikatakan sebagai ajang tebar pesona dari para kakak senior kepada adik junior, siapa tahu ada yang mau khilaf untuk diajak berkenalan. Hehe

Dari berbagai pengalaman diatas, seusai lulus kuliah kantin kampus juga seringkali dirindukan oleh para alumni. Jika jarak rumah tidak terlalu jauh dari kampus, tak jarang mereka sesekali menyempatkan waktu untuk bernostalgia.

Seperti yang saya lakukan sekarang, di kantin bu Sri WTS (warung tengah sawah) saya berada. Bagi mahasiswa IAIN Surakarta yang telah berganti nama menjadi UIN Raden Mas Said, kantin WTS merupakan salah satu spot idaman untuk melepas penat. 

Padahal jika dilihat dari tata letak, kantin WTS sebenarnya berada diluar lingkup area kampus. Berada di paling pojok sebelah barat daya diluar pagar kampus dan berdempetan dengan sawah justru tempat ini paling ramai pengunjung. 

Disaat kantin yang lain tumbang satu-persatu karena bergantinya peraturan terkait penyewaan tenant dalam kampus, kantin WTS tetap berdiri karena tidak terikat peraturan apapun. 

Bukan hanya untuk mahasiswa, berbagai latar belakang masyarakat kampus juga sering mengunjungi. Dari mulai dosen sampai dengan para pekerja outsourcing.

Sebetulnya kalau dipikir kantin Bu Sri WTS bisa dibilang tempat makan ndelik, bagi yang bukan mahasiswa IAIN akan terasa sulit untuk menemukan.

Untuk menuju kesana hanya terdapat dua jalur, itupun salah satunya harus melewati area kampus terlebih dahulu. 

Tapi ketika sudah berhasil sampai, perut kalian dijamin akan terpuaskan. Berbagai macam makanan dan minuman tersedia.

Dari mulai nasi pecel, kering tempe, sambel terong, sayur lodeh, gado-gado, aneka mie instan bisa kalian pesan. Karena mayoritas pembeli adalah mahasiswa maka harga yang ditawarkan terbilang ramah dikantong. 

Sepiring nasi pecel semisal, kalian cukup mengeluarkan uang Rp. 4000. 

Namun yang menjadi primadona justru menu Teamlo khas Solo, hampir sama seperti soto namun didalamnya terdapat lebih banyak isian seperti telur puyuh, bihun, wortel, kentang goreng dan jamur. 

Ketika jam makan siang tiba jika tidak segera memesan kalian mungkin akan kecewa karena menu teamlo telah habis.

Selain rasa lezat untuk harga juga terlampau murah, seporsi teamlo khas Solo mempunyai harga Rp. 7000. Murah bukan?.

Pagi ini di kantin bu Sri WTS saya cukup mengeluarkan uang Rp. 10.000 untuk sarapan. Kenyang penuh kenangan. 

Posting Komentar untuk "Kantin kampus Bu Sri WTS tempat makan ndelik di Kartasura"