Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Alasan kenapa chef profesional lebih didominasi oleh para kaum pria


Untuk urusan dapur apa hanya merupakan tugas dari seorang perempuan?.

Dulu saya sempat merasa penasaran, terlebih seusai menyaksikan film bertema kuliner. Di dalam dapur restoran seringkali pemandangan diisi oleh kumpulan para lelaki. Mereka nampak begitu sibuk, dari wajah terpancar berbagai tekanan. 

Di dapur untuk memuaskan pelanggan pesanan dibuat sesempurna mungkin, walaupun harus berjibaku dengan waktu konsentrasi tetap mereka pertahankan. Jika tidak omelan dari Chef kepala menanti, terpaksa mengulang membuat masakan tidak ingin mereka dapat. 

Sebagai penonton film saya turut larut, suasana tegang dapat saya rasakan kala itu. Tapi lain hal ketika menyaksikan acara memasak di televisi, dipandu oleh seorang selebriti chef  cantik membuat saya terpukau akan paras yang dimiliki. Suasana tenang justru hadir, sambil memasak dengan piawainya dia meragakan tata cara meracik makanan kepada para penonton dirumah. 

Sungguh bertolak belakang memang, apa yang disajikan di televisi seringkali membuai.

Sekedar bercerita, saya anak pertama dari empat bersaudara. Dan karena pengaruh tersebut adik saya yang kedua bercita-cita ingin menjadi selebrity chef. Alasannya tentu karena ingin dikenal banyak orang dan terlihat keren didepan kamera. Yah namanya juga remaja terlebih perempuan. 

Dan seusai lulus sma dia memutuskan untuk masuk ke dalam sekolah memasak. Di daerah kabupaten Sleman tepatnya, padahal sebelum itu ibu saya sudah menyarankan untuk lanjut ke bangku perkuliahan. Namun keputusan telah dibuatnya, dua tahun waktu dibutuhkan untuk menempuh jenjang pendidikan. 

Dan kalian tahu apa yang terjadi selanjutnya?.

Keinginannya tidak sesuai realita, bekerja di dalam dapur tak seindah apa yang dibayangkannya. Sebagai seorang perempuan menurutnya aktifitas didalam dapur terlalu berat dan sangat menguras tenaga. Beda dengan memasak di rumah maupun didalam televisi. Karena para chef profesional tidak untuk hanya memuaskan perut satu dua orang. Banyak pelanggan lapar menanti. 

Pantas saja di film kuliner dapur restoran selalu lebih didominasi oleh para kaum pria, selain karena faktor fisik kestabilan emosi ternyata lebih dimiliki. Coba bayangkan jika seorang perempuan dibentak chef kepala karena melakukan kesalahan. Rasa kesal pastilah dibawa sampai kehati, seperti adik saya yang selalu mengeluh sampai dirumah. 

Jujur saya merasa kesal, tapi bukan karena tidak tega, justru saya kesal karena tanggung jawab terhadap pilihan yang dia ambil tidak diseriusi. Sampai-sampai berganti pekerjaan sering dilakukan. 

Dan kalian bisa menebak sendiri, pada akhirnya dia menyerah ditengah jalan. Biaya sekolah kuliner mahal terpaksa terbuang percuma. 

Menurut para orang yang saya mintai konsultasi saat itu, sebenarnya saya sudah diberikan saran untuk membujuk adik saya mengambil keahlian memasak dibidang pastry. Sayang sekalikan jika ilmu yang sudah didapat terbuang percuma.

Menurut mereka, bidang pastry sangat cocok dipilih oleh para perempuan dalam menentukan karir di dunia kuliner. Selain karena beban pekerjaan lebih ringan dibanding chef restoran, dunia pastry memiliki resiko kecil. Alasannya tentu karena bersentuhan dengan peralatan memasak berbeban berat tidak sering mereka jumpai. 

Yah tapi mau bagaimana lagi, saya hafal dengan wataknya. Susah sekali untuk diberitahu, kalau belum merasakan kegagalan langsung dia akan tetap ngotot terhadap pendirian. Kandani ngeyel!.












Posting Komentar untuk "Alasan kenapa chef profesional lebih didominasi oleh para kaum pria"