Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Tidak semua bisnis kuliner harus mempunyai banyak cabang

Merintis bisnis kuliner dari nol sampai mendirikan banyak cabang siapa juga yang tidak ingin? Diusia menua, ketika bisnis telah berkembang dan sistem sudah autopilot fokus menghabiskan waktu dengan keluarga pastilah diinginkan oleh setiap orang. Kerja keras kita semasa hidup bisa dibilang terbayar dikemudian hari. 


Tapi setelah membaca dari artikel Foodizz, mengingatkan saya kembali tentang kisah motivasi hidup, dimana ada dua orang manusia berbeda latar belakang. Sebut saja pebisnis dan seorang nelayan. 

Keseharian mereka berdua bisa dikatakan bertolak belakang, dimana si nelayan seusai mencari ikan dilaut malam hari waktu dihabiskannya untuk berkumpul bersama keluarga. Sementara sang pebisnis setelah seharian sibuk mengurusi perusahaan pada malam hari waktu kembali dilanjutkan dengan melakukan evaluasi dan merencanakan pengembangan. Perbedaan ekonomi jelas tergambar dari mereka berdua. 

Namun pada suatu sore di pelabuhan mereka dipertemukan, sang pebisnis melihat ikan hasil tangkapan dari si nelayan. Dan karena merasa penasaran beberapa pertanyaan coba diajukan.

Pebisnis : mas kalau boleh tahu dalam sehari bisa menangkap ikan sampai berapa? 

Nelayan : alhamdulilah pak ikan hasil tangkapan saya cukup untuk menghidupi keluarga. Malam ini mereka pasti senang melihat hasil yang saya bawa

Pebisnis : kenapa kamu tidak mencoba mengajukan pinjaman di bank untuk mengembangkan usaha?

Nelayan : saya tidak tahu bisnis pak

Mendengar jawaban tersebut, ilmu terkait dunia bisnis dan motivasi coba diberikan kepada si nelayan. 

Pebisnis : begini mas, setelah melakukan peminjaman kredit di bank, uang bisa kamu gunakan untuk membeli perahu lagi. Rekrut orang menjadi anak buah dan hasil tangkapanmu akan lebih banyak. Keluargamu pasti lebih senang. 

Nelayan : lalu pak? 

Pebisnis : seteleah hasil tangkapanmu banyak kamu bisa mencicil lagi perahu untuk menambah armada. Semakin banyak perahu semakin banyak pendapatan. Jika uang sudah terkumpul kamu bisa membuat rumah pengepulan ikan. Jadi kamu tidak perlu repot-repot lagi untuk pergi melaut. 

Nelayan : oh begitu ya pak

Pebisnis : iya mas, habis itu jika usahamu lebih berkembang pabrik pengolahan ikan bisa kamu buat. Dari uang hasil kerja kerasmu kelayakan hidup bisa kamu berikan kepada keluarga. Setelah menjadi pabrik kamu bisa mendaftarkan perusahaanmu di bursa efek. Dari saham kamu akan mendapat uang banyak, dan ketika tua waktu bisa kamu habiskan untuk berkumpul bersama keluarga.

Nelayan : owalah begitu, tapi pak kalau tujuan akhirnya hanya untuk menikmati waktu bersama keluarga saya tidak perlu repot-repot bekerja keras seumur hidup. Toh habis ini saya juga akan menghabiskan sisa malam dengan berkumpul bersama keluarga. 

Pebisnis : ...  (terdiam)

Yang semula ingin memberikan motivasi, mendadak berbalik mendapatkan tamparan. Sang pebisnis baru menyadari semua kerja kerasnya selama ini terasa sia-sia. Jika untuk keluarga kenapa harus mengkorbankan banyak waktu hanya untuk menikmati sedikit waktu disisa hidup. 

Seperti halnya di dunia bisnis kuliner, mempunyai banyak cabang sebenarnya ditujukan untuk apa? Kebebasan financial, kebanggaan ataukah sekedar Ingin mendapat pengakuan?. 

Sebelum mengembangkan bisnis memang alangkah baiknya tentukan tujuan terlebih dahulu. Semasa kecil kalian pasti sempat berpikir kalau orang tua kalian terlalu sibuk dan tidak ada waktu. Bahkan lebih parahnya, anggapan orangtua tidak menyayangi kalian muncul dalam benak. 

Sifat ambisius kerap kali membutakan seseorang, terjebak dalam arus tanpa disadari dapat menghanyutkan dan baru menyesal ketika sudah dihulu. Siklus tersebut selalu berulang, dimana liang lahat menjadi persinggahan akhir. 

Jadi apa salahnya bisnis kuliner hanya mempunyai 1 cabang?. Toh tingkat kebahagian tidak selamanya bisa diukur dari banyaknya materi dan aset. 





Posting Komentar untuk "Tidak semua bisnis kuliner harus mempunyai banyak cabang"