Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Kisah merintis bisnis kuliner bagi pemula : part 1

Makanan merupakan kebutuhan pokok bagi manusia, maka daripada itu bisnis kuliner termasuk salah satu bisnis menjanjikan. Perputaran uang yang begitu cepat tentu sangat menggoda hati seseorang untuk ikut terjun kedalamnya, termasuk saya sendiri.

Pada mulanya saya bahkan sempat beranggapan jika hidup didunia kuliner masa depan tidak akan terjamin. Pendapatan tidak menentu menimbulkan rasa kekhawatiran, terlebih karena pandangan sosial di masyarakat. 

Sebut saja profesi PNS, aparatur negara, pekerja kantoran justru dijadikan idaman sebagai calon mantu. Dan tanpa disadari doktrin tersebut merasuk kedalam pikiran.

Jika melihat pedagang di pinggir jalan raya rasa iba muncul didalam benak, lebih parahnya mereka seringkali saya jadikan landasan sebagai pemacu semangat dalam fokus belajar agar kelak jejak dari mereka tidak saya ikuti. Jujur diawal kuliah saya ingin segera lulus dan mendapatkan pekerjaan mapan. Orang tua pastilah merasa bangga tak kala anak mereka berhasil diwisuda. 

Tapi realita berkata lain, pada semester akhir kuliah mata pelajaran tinggal menyisakan skripsi dan karena memiliki banyak waktu luang maka saya putuskan untuk mencari pekerjaan part time. Menjaga stand martabak sama sekali belum pernah terbersit dikepala, namun selama hampir dua tahun saya tekuni. 

Sourced : facebook pribadi


Dan akibatnya? Teman-teman sekelas sudah lulus satu persatu, tinggal menyisakan segelintir orang termasuk saya. Tidak bisa dipungkiri, saat itu rasa penyesalan hadir. Sempat saya berfikir untuk resend dari pekerjaan dan lebih memfokus diri dalam menyelesaikan skripsi.

Belum sempat mengajukan surat pengunduran diri salah seorang teman menghubungi. Sebut saja namanya Kim jong un, dikelas dia termasuk salah satu mahasiswa tercerdas, rajin, aktif juga dalam kegiatan mahasiswa. Tidak sama sepertiku, dia lulus kuliah tepat waktu. Alangkah mengejutkan info terkait lowongan pekerjaan ditanyakan. 

Saya sedikit curiga, sebenarnya dia memang sedang membutuhkan pekerjaan ataukah sedang menyindir?. Prasangka buruk coba saya buang dan obrolan kami lanjut. Dia bercerita bahwasanya berganti-ganti pekerjaan telah dilakukan, gaji tidak sesuai menjadi alasan. 

Di karisidenan Surakarta pada tahun-tahun kemaran ternyata ijazah S1 hanya bernilai sama dengan lulusan sma, mendapat gaji umr bahkan terkadang dibawahnya. 

Seperti diberikan petunjuk oleh tuhan, selepas perbincangan kami berdua pada akhirnya saya putuskan untuk memantabkan hati resend dari pekerjaan. Lebih gilanya, seusai menyandang status mahasiswa pengangguran tugas skripsi juga tidak segera saya kerjakan. 

Dan kalian tahu?, dirumah saya malah mengelurakan jurus seribu bujuk rayu kepada ibu agar diperbolehkan meminjam uang di bank. Sebagai seorang anak muda keputusan saya dianggap sembrono, memutuskan membuka bisnis martabak sekaligus ijin keluar dari kampus membuat beliau marah besar. 

Padahal landasan pemikiran saya kuat, disaat teman-teman seangkatan seusai lulus kuliah kesulitan dalam mencari pekerjaan nasib baik justru menghampiri. Pekerjaan dan skill dalam mengolah martabak telah saya punya. 

Dan disaat yang lain mendapat gaji umr, sebelum resend tiap bulan saya menerima gaji sebanyak 2.25 juta rupiah. 500 ribu lebih banyak dibandingkan umr Solo pada waktu itu. Bayangkan coba, gaji pegawai martabak lebih besar dibandingkan sarjana. 

Lantas berapa total omset bersih yang didapat oleh bos saya? Menggiurkan bukan?.

Singkat cerita pada akhirnya ibu saya menyerah dan mengijinkan meminjam uang di bank untuk modal dalam membuka usaha. 

Dan pada tahap ini merupakan kesalahan pertama saya, terlalu ambisius membuyarkan segalanya. Seusai uang pinjaman turun tanpa pikir panjang saya membeli berbagai perlengkapan dan peralatan. Menyetok bahan baku dalam jumlah banyak saya pikir akan lebih menghemat pengeluaran karena harga dari barang lebih murah dibandingkan membeli satuan.

Masalahnya, saya terlalu percaya dengan teman. Dalam proses pembuatan grobak martabak saya serahkan sepenuhnya agar dikerjaan. Dalam jangka kurang dari tiga minggu gerobak dijanjikan akan selesai, saya senang berarti sebentar lagi saya resmi menyandang status sebagai penjual martabak. 

Hari demi hari berlalu sampai dengan berbulan-bulan ternyata janjinya tidak terealisasi. Pusing jelas saja saya alami, mau marah kok ya teman tapi jika dibiarkan kok ya tiap bulan cicilan bank menanti. Dilema melanda, kepada siapa lagi kita akan percaya kalau teman sendiri membuat kecewa?. 

Saya ingat betul, pada bulan juli - desember stok bahan baku martabak telah mulai menjamur. Laba belum dirasakan namun kerugian telah didapat, namun nasib masih berpihak, entah karena berempati salah seorang teman kontrakam berbaik hati membeli gerobak saya yang sedang dikerjakan. Bagai seorang malaikat sebut saja beliau kakek sugiono. Saya sangat berhutang budi. 

Pada bulan januari setelah 2 minggu ganti memesan ketempat lain gerobak siap dipakai dan bisnis martabak pada akhirnya berhasil saya buka. Di emperan alfamart gerobak berdiri dengan megah, dan disinilah kesalahan kedua saya lakukan. 

Perencanaan keuangan tidak saya perhitungkan, 6 bulan menunggu gerobak selesai pemasukan tidak ada sama sekali. Padahal setiap awal bulan cicilan bank juga harus saya setorkan. Terpaksa uang dari sisa tabungan pinjaman bank saya keluarkan untuk memenuhi kebutuhan. 

Lebih bodohnya!, saya berfikiran kalau saat pembukaan akan langsung seramai seperti di tempat kerja saya yang dulu. Maka dari itu langsung saya putuskan merekrut seorang teman untuk membantu berjualan. Menggampangkan istilah babat alas merupakan kesalahan fatal, dan akibatnya baru sebulan berdiri cash flow yang saya miliki tidak ada. Tabungan habis tak tersisa untuk menutupi pembayar beban sewa tempat dan gaji. 

Kurangnya pengalaman dalam mengelola bisnis membuat saya merasakan gulung tikar terlalu dini. Hanya bermodal skill memasak martabak ternyata tidak cukup, dan untuk menceritakan peristiwa tersebut ke ibu tidak berani saya lakukan, sudah cukup rasa kecewa beliau dapat dari saya selaku anak pertama. 

Lanjut ke part 2 --) Membuang idealisme


Posting Komentar untuk "Kisah merintis bisnis kuliner bagi pemula : part 1"